Kuliner Solo
Legitnya Jenang Khas Pracimantoro Wonogiri, Banyak Diburu saat Musim Hajatan dan Mudik Lebaran
Jenang khas Pracimantoro tersebut tak jauh beda dari jenang-jenang asal daerah lain. Rasanya manis legit dan memikat para penikmatnya.
Penulis: Erlangga Bima Sakti | Editor: Reza Dwi Wijayanti
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Erlangga Bima Sakti
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Jenang merupakan makanan tradisional asli Indonesia.
Makanan yang mempunyai rasa manis itu gampang ditemui di sejumlah wilayah.
Salah satunya di Wonogiri.
Di sana banyak rumah-rumah warga yang memproduksi jenang, terutama di Kecamatan Pracimantoro.
Baca juga: 5 Makanan Buka Puasa Khas Wonogiri yang Jadi Favorit Para Pecinta Kuliner: Pindang Kambing
Jenang khas Pracimantoro tersebut tak jauh beda dari jenang-jenang asal daerah lain. Rasanya manis legit dan memikat para penikmatnya.
Salah satu perajin dan penjual jenang asal Pracimantoro adalah Samsudin (78).
Warga Godang RT 01 RW 01 Desa/Kecamatan Pracimantoro itu mengaku sudah puluhan tahun memproduksi dan menjual jenang.
"Kalau saya sejak tahun 2000 membuat jenang. Sejak dulu bahannya tidak berubah," ujar Samsudin, kepada TribunSolo.com.
Dia menjelaskan, bahan utama pembuatan jenang yakni tepung beras dan tepung ketan. Adapun tambahan bahan lain seperti gula merah dan gula pasir.
Proses memasak jenang, kata dia, membutuhkan waktu yang tak sebentar.
Setidaknya perlu waktu enam jam untuk mematangkan adonan jenang turun temurun dari leluhurnya itu.
"Proses masaknya kan diaduk terus selama enam jam. Kalau berhenti bisa gosong. Kalau sudah mengental bisa disambi. Tepung ketan lebih banyak dari tepung beras," terang Samsudin.
Menurutnya, jenang asal Pracimantoro banyak dipesan pembeli untuk acara-acara khusus seperti hajatan.
Selain itu, banyak pembeli yang memburu untuk oleh-oleh ketika lebaran.
Biasanya, masyarakat memborong jenang Pracimantoro untuk oleh-oleh ketika kembali ke tempat perantauan.
Namun saat dihantam pandemi, pesanan jenang di rumah produksi milik Samsu sempat terdampak.
Pasalnya banyak pembatasan ketika pandemi, misalnya larangan untuk menggelar hajatan sampai mudik di momentum khusus seperti lebaran.
"Sering juga ada perantau yang cari oleh-oleh. Pernah dibawa ke Jawa Barat, Kalimantan, sampai Sumatera. Ada yang pesan dulu, ada juga yang ambil stok yang sudah jadi," jelasnya.
Pesanan jenang di rumah produksi milik Samsudin kini mulai berdatangan seiring pelonggaran yang diberlakukan.
Harga yang harus dikeluarkan untuk membeli jenang bervariasi sesuai permintaan.
Dia mencontohkan, untuk ukuran satu kilogram, dibanderol seharga Rp 25 ribu.
Baca juga: Rekomendasi Kuliner Khas Solo untuk Menu Buka Puasa: Timlo, Tengkleng hingga Nasi Liwet
Namun konsumen bisa membeli ukuran lebih kecil maupun lebih besar dengan datang langsung ke rumah produksinya.
Dia memastikan, jenang bikinannya tanpa pengawet.
Karena itu, jenangnya hanya mampu bertahan maksimal selama empat hari sehingga tidak berani untuk dipasarkan secara online.
"Kalau jenang disini tidak pakai pengawet. Kalau ada jenang yang tahan belasan hari pasti pakai pengawet. Kalau perajin disini banyak yang mempertahankan resep dari orang tuanya," tandasnya.
(*)