Berita Wonogiri Terbaru
Meresahkannya Branjang Apung Ilegal di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Dikhawatirkan Rusak Ekosistem
Keberadaan branjang apung ilegal semakin marak di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri belakangan ini. Dikhawatirkan keberadaannya bakal merusak ekosistem
Penulis: Erlangga Bima Sakti | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
"Saya langsung masukkan ke dalam wadah ikan yang sudah saya bawa," ujarnya.
"Ikan lelenya sangat besar sekali," katanya.
Baca juga: Mencicipi Kuliner Ikan Tawar Khas Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Enak dan Segar
Baca juga: Cuan Banget : Modalnya Cuma Branjang, Sehari Bisa Dapat 8 Kg Ikan Nila, Jika Diuangkan Rp 200 Ribu
Sebelum mau dibawa pulang, ikan yang biasanya dijadikan maskot di kolam pemancingan atau dijadikan indukan oleh pembudidaya bibit lele itu banyak yang menawar.
Ada yang minat membeli dengan harga lebih dari Rp 200 ribu.
Tapi dia ingin membawanya pulang untuk ditimbang dulu.
Dia yang cukup senang mendapatkan tangkapan ikan monster itu pun langsung menimbangnya setibanya di rumah.
"Saya timbang itu 8 kilogram lebih 7 ons. Lalu kebetulan paman dari isteri saya mau membelinya dengan harga Rp 150 ribu. Saya kasihkan saja. Karena masih keluarga juga dari pada dijual ke orang lain," ujarnya.
Kegembiraan Ucil mendapatkan ikan monster itu tak berlangsung lama.
Cari Belut Dapat Cuan
Yang penting halal, itulah kata yang sering meluncur di mulut seseorang meskipun pekerjaannya tak mentereng seperti orang lain.
Tapi siapa sangka, pencari belut liar di selokan, sawah hingga kali pada umumnya, masih ada di era modern seperti ini.
Dia adalah Warsim tulang punggung kelurga dari Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali.
Pria paruh baya itu sudah belasan tahun setia dengan apa yang dikerjakannya.
Baginya, mencari belut liar terutama di sawah-sawah ini cukup menjanjikan.

Dengan bermodal aki sepeda motor dan perangkat trafo serta stik besi, dia bisa mengangkat sedikitnya 2 kg belut setiap hari.
“Harga jualnya ke bakul (pedagang) saat ini Rp 40 ribu,” jelasnya kepada TribunSolo.com, Sabtu (4/6/2022).
Apalagi, untuk mendapatkan belut dari di sawah misalnya, ini cukuplah mudah.
Dia hanya perlu menancapkan kedua stik besi yang telah teraliri listrik dari rangkaian aki yang digendong ke dalam tanah.
Baca juga: Terungkap, Begini Alasan Megawati Soekarnoputri Tak Hadiri Pernikahan Adik Jokowi & Ketua MK di Solo
Baca juga: Nikmatnya Sambal Belut di Mojolaban Sukoharjo, Gurih dan Pedasnya Bikin Goyang Lidah, Wajib Dicoba
Belut yang tersengat itu pun kemudian tak berdaya dan dengan mudah diangkat dari persembunyiannya.
Dia mengaku tak ada batasan waktu untuk memburu hewan yang bisa berubah kelamin itu.
Bisa pagi hari atau malam hari, sesuai dengan kondisi sawah.
Warsim juga tak membatasi wilayah sawah yang akan dicari belutnya.
“Sampai Ngawi juga pernah, sesuai dengan kondisi sawah," aku dia.
"Kan kadang di sini baru tanam, tapi di Sukoharjo atau Sragen sudah mulai panen, nah bisanya cari belut di sawah yang sudah dipanen atau saat akan ditanami,” katanya.
Baginya, mencari belut masih cukup menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Apalagi permintaan akan belut juga terus meningkat.
Sedangkan hasil budidaya belut oleh masyarakat juga belum cukup memenuhi kebutuhan pasar.
“Hasilnya masih cukup lumayanlah, yang penting ada usaha halal,” jelas dia. (*)