Fakta Menarik Tentang Solo
Mengenal Ritual Poso Mutih: Jenis Puasa yang Ada Sejak Jawa Kuno, Sering Dilakukan Bangsawan di Solo
Praktiknya beragam, seperti taparacut dan ugra tapa, yang bertujuan melepaskan diri dari dosa dan mengekang hawa nafsu.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Puasa mutih atau puasa nazar adalah laku spiritual Jawa sejak zaman kuno, dilakukan hanya dengan nasi putih dan air putih untuk menyucikan diri, refleksi batin, dan mencapai hajat tertentu.
- Dikenal sejak era Airlangga dan Majapahit, termasuk Amukti Palapa Gajah Mada, puasa mutih juga tercatat dalam Kakawin sebagai bentuk pengendalian diri dan tapa.
- Selain spiritual, puasa ini menyehatkan tubuh, mengurangi lemak, dan detoksifikasi.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Puasa mutih atau puasa nazar merupakan salah satu bentuk ibadah yang sarat makna spiritual, khususnya bagi masyarakat Jawa di Solo Raya, Jawa Tengah.
Puasa Mutih merupakan laku spiritual Jawa yang sudah dikenal sejak zaman para leluhur di Solo Raya.
Ritual puasa mutih atau poso mutih dilakukan hanya dengan mengonsumsi nasi putih dan air putih selama periode tertentu, sebagai cara untuk menyucikan diri dan mengasah ketahanan batin.
Baca juga: 6 Ritual Tolak Hujan yang Masih Sering Dilakukan di Solo Raya, Kamu Percaya Atau Tidak?
Bagi kalangan Bangsawan Mangkunegaran, puasa Mutih sering dilakukan menjelang upacara besar atau momen penting dalam hidup.
Para Bangsawan Mangkunegaran dulu melakukan puasa mutih bukan sekadar untuk menahan makan dan minum.
Namun, juga pengendalian diri, dan refleksi spiritual yang mendalam.
Dalam dunia modern, puasa Mutih mulai dipahami ulang.
Kini dianggap sebagai bentuk detoksifikasi tubuh dan pikiran dari hiruk-pikuk dunia digital, stres, dan rutinitas berlebihan.
Baca juga: Mengenal Tradisi Mendhem Ari-ari : Ritual Sakral Mengubur Plasenta Bayi di Solo Raya
Definisi Puasa Mutih
Puasa mutih atau puasa nazar adalah ibadah yang dilakukan selama 3, 7, 21, atau 40 hari oleh pengikut Sufisme, Kejawen, maupun umat Muslim yang memiliki hajat tertentu.
Selama puasa mutih, pelaku hanya mengonsumsi nasi putih dan air putih, menghindari makanan dan minuman yang berwarna lain.
Tujuannya adalah memohon kepada Allah agar hajat tertentu tercapai.
Namun, dalam praktiknya, puasa mutih juga terkadang disalahgunakan untuk memperoleh ilmu gaib.
Secara kesehatan, puasa ini membantu mengurangi asupan lemak berlebih dan mendetoks racun dalam tubuh.
Baca juga: Makna Prosesi Menginjak Telur, Ritual Sakral Pernikahan Adat Jawa yang Masih Eksis di Solo Raya
Puasa Mutih dalam Perspektif Islam
Dalam ajaran Islam, puasa mutih dikenal sebagai puasa nazar, ibadah yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah ketika hajat atau keinginan tertentu telah dikabulkan.
| Kisah di Balik 'The Spirit of Java' yang jadi Slogan Kota Solo, Ini Sosok Penciptanya |
|
|---|
| 7 Mitos Beli Rumah yang Masih Banyak Dipercaya Warga Solo Raya, Ini Faktanya |
|
|---|
| Mudah di Temukan di Angkringan Solo, Tempe Gembus Ternyata Simpan Nilai Sejarah dan Budaya Tinggi |
|
|---|
| Kisah di Balik Kebiasaan Warga Solo Raya Sarapan Soto di Pagi Hari : Kuah Hangat dan Ringan |
|
|---|
| Kenapa Warga Solo Gemar Sarapan Pakai Soto? Ini Sejarah Panjangnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/ilustrasi-nasi-di-dalam-rice-cooker.jpg)