Berita Terbaru Boyolali
Imbas Wabah PMK, Disdagperin Boyolali Catat Potensi Sapi Masuk Pasar Hewan Turun hingga 30 Persen
Dampak penyebaran penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sudah dirasakan di Boyolali. Potensi sapi yang masuk ke pasar hewan berkurang drastis.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Dampak penyebaran penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sudah dirasakan di Boyolali.
Selain menurunkan harga jual sapi, dari Rp250-500 ribu, potensi sapi yang masuk ke pasar hewan juga berkurang drastis.
Kepala UPT Pasar Hewan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Boyolali Sapto Hadi Darmono mengatakan dampak dari penyebaran PMK sudah dirasakan, meski kasus PMK di Boyolali tak begitu banyak.
Baca juga: Pedagang Sapi Diminta Perhatikan Kesehatan Ternak, Jekek Akan Tutup Pasar Hewan Jika Ada Temuan PMK
Baca juga: Kondisi Belasan Sapi di Boyolali yang Terpapar PMK Membaik, Penyemprotan Disinfektan Masif
Dampaknya cukup terasa, khususnya di pasar hewan Boyolali, di Desa Jelok, Kecamatan Cepogo.
Sebelum adanya wabah PMK ini, setiap hari pasaran (Pahing, penanggalan Jawa), sedikitnya 1.000 sapi masuk ke pasar hewan.
“Saat ini potensi sapi yang masuk ke pasar hewan ini menurun. Antara 25-30 persen,” jelas Sapto disela-sela pengecekan hewan sapi di pasar Hewan Boyolali, Senin (16/5/2022).
Belakangan ini, setiap hari pasaran, potensi sapi yang masuk ke pasar Hewan Boyolali ini hanya berkisar antara 600-700 ekor sapi.
Kondisi yang sama juga terjadi di pasar hewan Karanggede, Pasar Hewan Karangjati Simo, Pasar Hewan Nogosari dan Ampel.
Baca juga: Dua Minggu Kedepan, Pedagang Diminta Setop Ambil Sapi dari Luar Daerah: Antisipasi PMK
Baca juga: Banyak Sapi Terpapar PMK, Mentan : Kebutuhan 1,7 Juta Ekor untuk Idul Adha Dipastikan Tak Terganggu
Memang dikatakan Sapto, belum ditemukan adanya sapi-sapi yang di pasar hewan ini yang terpapar PMK.
Hanya saja, saat dilakukan pemeriksaan ditemukan sapi-sapi yang mengeluarkan air liur yang berlebih.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan membuka mulut sapi, tak ditemukan adanya tanda-tanda gejala klinis yang mengarah ke PMK.
Panas tinggi dan hipersalivasi tersebut ditengarai karena suhu lingkungan yang panas. Serta kepanasan selama perjalanan.
"Pemeriksaan suhu dengan termometer dan pemeriksaan gejala klinis. Semua sehat, ada 15 ekor sapi yang bergejala suhu tinggi yakni 40-41 derajat celcius dan mengalami hipersalivasi atau keluar liur busa terus. Tapi setelah diperiksa mulut dan teracak kaki kondisi sehat," pungkasnya.
(*)