Opini

Earth Friendly dalam Lini : Perubahan Iklim dan Upaya Mempersiapkan Masa Depan

Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca yang menimbulkan berbagai efek pada bumi

Istimewa
Alfian Silvia Krisnasari 

TRIBUNSOLO.COM - Masa depan kian menjadi dilema, tidak hanya perihal globalisasi yang tidak dibarengi dengan konservasi kebudayaan ataupun nilai normal namun juga perihal kenyamanan dan juga keberlanjutan lingkungan.

Perubahan iklim berubah menjadi Krisis iklim yang semankin nyata, di kala masyarakat banyak yang tidak paham atau bahkan memahami namun acuh di kala permasalahan ada didepan mata.

Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca yang menimbulkan berbagai efek pada bumi yang dipicu oleh fenomena pemanasan global.

Sebuah fenomena di mana terjadi emisi gas rumah kaca yang berlebihan di atmosfer.

Sedangkan krisis iklim dinilai sebagai suatu kondisi genting yang disebabkan oleh perubahan iklim, dimana telah terjadi peningkatan suhu rata-rata bumi dalam jangka waktu yang panjang.

Dampak jika semua hal tersebut dibiarkan tidak hanya udara yang semakin panas, musim hujan berkelanjutan bahkan krisis pangan dan konflik sosial serta potensi terjadinya suaka besar-besaran karena ketidakmampuan tanah untuk digunakan sebagai lahan bercocok tanam makanan pokok.

Hal itu menjadi sebuah ketakutan tersendiri yang kian menghantui bagi manusia yang menyadari. Sementara menyelamatkan bumi, bukan hanya tanggungjawab segelintir orang yang mau peduli. 

Menurut data SIPSN, timbunan sampah di Indonesia pada tahun 2023 sebesar 69,9 juta ton. Yang didominasi oleh sampah sisa makanan sebesar 41,60 persen dan sampah plastik sebesar 18,71 persen.

Jika dilihat dari hal tersebut food waste menjadi salah satu pemasok terbesar sampah di Indonesia (KLHK, 2023).

Dimana banyak masyarakat yang menyumbang sisa-sisa makanan yang terbuang hingga menjadi sampah, sementara tingkat kemiskinan di Indonesia pada Maret 2023 mencapai 9,36 persen.

Tentu ini menjadi sebuah ketimpangan dimana hampir 10 persen persenwarga Indonesia kesulitan untuk makan, namun ada begitu banyak sampah sisa makanan.

Hal yang dapat dilakukan antara lain untuk memulai kesadaran dari rumah terhadap kesadaran bertanggungjawab akan makanan yang dikonsumsi, kesadaran untuk berbagi makanan bahkan kepedulian sesama untuk terus mengkampanyekan efisiensi konsumsi dalam rumah tangga.

Pada tahun 2021, saya Alfian Silvia Krisnasari berkesempatan untuk menjuarai Duta Pepelingasih Indonesia tingkat nasional, yang merupakan Duta Bidang Lingkungan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Saya melakukan perjalanan dari satu daerah ke daerah lain, salah satu problem yang sering terjadi adalah masyarakat tidak menyadari adanya permasalahan krisis iklim yang kian mengancam keberlanjutan masyarakat bumi.

Dalam artian seruan dari beberapa pihak, masih tertutupi dengan keterbatasan baik spasial maupun kemampuan untuk berfikir dan berkesadaran.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved