Opini

Dampak Perkembangan Media Informasi Digital terhadap Kebahagiaan Individu

Perkembangan dalam media digital telah mempermudah akses informasi dengan cepat. 

Tayang:
Tribun Solo / Istimewa
Romi Iriandi Putra, S.I.Kom, M.I.Kom (Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Karanganyar) 

Oleh Romi Iriandi Putra, S.I.Kom, M.I.Kom

Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Karanganyar

Romi Iriandi Putra, S.I.Kom, M.I.Kom (Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Karanganyar)
Romi Iriandi Putra, S.I.Kom, M.I.Kom (Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Karanganyar) (Tribun Solo / Istimewa)

Perkembangan dalam media digital telah mempermudah akses informasi dengan cepat. 

Informasi seperti berita, peristiwa terkini dan hiburan yang mudah diakses selain memberikan insight positif bagi penerima juga berdampak signifikan terhadap kebahagiaan.

Menurut Nabilah (2024) dalam infografik databoks menyebutkan Indonesia termasuk salah satu negara dengan waktu penggunaan media sosial yang cukup tinggi, di mana rata-rata pengguna menghabiskan sekitar 3 jam 8 menit per hari untuk mengakses platform tersebut.

Berdasarkan laporan, pengguna memanfaatkan media sosial untuk tetap terhubung dengan keluarga serta sanak saudara, mengisi waktu luang, membaca berita, mencari artikel, mengakses informasi yang sedang tranding hingga melihat video baik di reels ataupun tiktok.

Lantas, bagaimana media informasi digital memengaruhi kebahagiaan seseorang? Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan:

(1) Kemudahan akses informasi dapat menyebabkan informasi yang berlebihan (overload informations). Hal ini sering kali membuat seseorang merasa stres, bingung, kewalahan, serta insecure dalam menjalani kehidupan.

(2) Media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan orang lain, mendorong seseorang untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Akibatnya, rasa tidak puas dan rendah diri dapat muncul, yang pada akhirnya membuat velue dari kebahagian itu sendiri memiliki standar yang tinggi. Padahal hakikatnya, kebahagiaan tidak dapat disamaratakan setiap individu.

(3) Penyebaran berita palsu dapat menimbulkan rasa takut, cemas, dan khawatir yang berlebihan. Ketidakmampuan membedakan antara fakta dan hoaks juga menurunkan rasa aman dan kepercayaan.

(4) Berita sensasional atau konten kontroversial sering kali menarik perhatian, tetapi juga dapat memengaruhi emosi secara negatif. Paparan terus-menerus terhadap berita buruk dapat merusak suasana hati dan mengurangi kebahagiaan.

(5) Ketergantungan pada media digital sering kali mengurangi waktu untuk bersosialisasi secara langsung, padahal interaksi tatap muka penting untuk kesejahteraan emosional dan kebahagiaan. 

Menurut Veenhoven (1995) mendefinisikan kebahagiaan atau kepuasan dalam hidup sebagai indikator sejauh mana individu dapat menilai serta mengartikan kualitas hidupnya dengan baik. Sedangkan menurut Jalaludin Rumi berpendapat bahwa sebuah kebahagiaan itu adalah Cinta yang bergemuruh kepada sang pencipta yaitu Allah SWT. Ia berpendapat bahwa kebahagiaan berasal dari sebuah hubungan spritual yang mendalam dengan Tuhan, bukan dari harta, popularitas, atau pencapaian dunia. Setiap manusia berhak bahagia, dan Genuine of happiness didapatkan melalui usaha yang dilakukan secara terus menerus.

Jalaludin Rahmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menggambarkan tahapan komunikasi intrapersonal sebagai serangkaian proses kompleks yang melibatkan pengolahan informasi, yang meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Tahapan ini dimulai dengan sensasi, yakni proses awal di mana manusia menerima rangsangan melalui panca indra mereka. Setiap rangsangan yang diterima oleh indra kita seperti cahaya, suara, sentuhan, rasa, dan bau merupakan titik awal dari komunikasi intrapersonal.

Selanjutnya, persepsi adalah tahap di mana otak memberikan makna pada rangsangan tersebut. Proses ini melibatkan interpretasi terhadap informasi sensoris yang telah diterima, memungkinkan kita untuk memahami lingkungan sekitar kita dengan lebih baik. Persepsi inilah yang membantu kita menyaring dan menafsirkan rangsangan berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan konteks yang relevan.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved